(Vibiznews - Index) – China telah menjalani tahun yang cukup mengesankan di tahun 2010. Mungkin dapat dikatakan bahwa China mengakhiri dekade pertama di abad ke-21 ini dengan posisi yang jauh berbeda dengan negara-negara lainnya.
China berhasil menangkis efek dari resesi global sejak tahun 2008 dan justru berhasil menyalib Jepang, menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-2 di dunia. Sementara itu, Eropa justru dicengkeram oleh ketidakpastian akibat krisis utang yang terjadi di zona tersebut.
Banyak hal telah terjadi di 2010, apa yang menjadi fokus di Asia pada tahun 2011 ini?
Sekilas Review Bursa Hong Kong di Tahun 2010
Secara umum, bursa Hong Kong berada dalam tren bullish di tahun 2010. Indeks Hang Seng berhasil menembus level tertinggi 2009, mencetak rekor baru di level 24988,57 pada November 2010.
Namun setelah mencetak rekor baru, hingga bulan Februari 2011 ini indeks Hang Seng tampak bergerak konsolidatif. Tertekannya bursa Hong Kong diperkirakan akibat dari gencarnya pengetatan moneter yang dilakukan oleh pemerintah China, dalam rangka mengendalikan laju inflasi.
China telah meningkatkan suku bunganya total sebanyak 3 kali hingga saat ini. Pertama kali dinaikkan pada 20 Oktober 2010, lalu berikutnya 25 Desember 2010 dan 8 Februari 2011. Suku bunga dinaikkan dengan tujuan untuk mengerem laju pertumbuhan ekonomi China yang makin pesat, yang dimana berakibat terjadinya kenaikan harga (inflasi) terutama pada bahan-bahan makanan.
Tingginya Inflasi di Asia
Saat ini, pusat pertumbuhan ekonomi dunia memang terletak pada Asia, namun pesatnya pertumbuhan ekonomi menciptakan tingginya inflasi. Hal inilah yang sedang terjadi di Asia saat ini, terutama kekhawatiran datang dari China sebagai negara dengan ekonomi terbesar ke-2 di dunia saat ini.
Pertumbuhan ekonomi China selama beberapa dekade terakhir memang cukup impresif. Di tahun 2011, walaupun diperkirakan tidak akan se-cemerlang sebelumnya, ekonomi China diproyeksikan masih akan bertumbuh sekitar 8-9% oleh kebanyakan ekonom dunia.
Namun kendalanya saat ini adalah bahwa pertumbuhan pesat China dikhawatirkan akan sulit dipertahankan dan justru berpotensi berujung bubble akibat terlampau “panas”-nya ekonomi China. Sehingga masalah terbesar China saat ini bukanlah menghasilkan, namun memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi mereka stabil dan dapat dipertahankan.
Pada tanggal 20 Oktober 2010, China untuk pertama kalinya menaikkan suku bunga sejak hampir 3 tahun terakhir. Hal tersebut tampaknya cukup berhasil menekan inflasi walau masih tinggi.
Inflasi di China mencetak rekor tertinggi selama 28 bulan terakhir, yakni 5,1% di bulan November 2010.
Tingginya inflasi di China terutama di kontribusi oleh harga bahan-bahan makanan, dimana tercatat meningkat 11,7% di bulan November 2010 dibandingkan tahun sebelumnya.
Laju inflasi di Desember 2010 tercatat menurun menjadi 4,6%, sedangkan kenaikan harga pangan menurun menjadi 9,6%, namun angka tersebut masih melampaui target inflasi tahunan PBOC (People’s Bank of China) sebesar 3% di tahun 2010.
Tingginya inflasi di China yang tampak resilien membuat China kembali menaikkan suku bunganya pada 25 Desember 2010 dan 8 Februari 2011. Suku bunga pinjaman saat ini telah dinaikkan menjadi 6,06% dan suku bunga deposito menjadi 3,00%. Untuk tahun 2011, pemerintah China meningkatkan target inflasinya menjadi 4%.
Outlook Bursa China dan Hong Kong
Saat ini ada risiko yang cukup tinggi bahwa inflasi di Asia akan tidak terkontrol, terutama di China. Bank-bank sentral di Asia harus mempercepat langkah pengetatannya untuk mencegah laju inflasi yang terlalu tinggi.
Dan jika memang dilakukan, seperti China yang gencar menaikkan suku bunganya belakangan ini, hasilnya dapat berakibat perlambatan ekonomi China dan berpotensi berdampak negatif terhadap ekonomi negara-negara sekitarnya bahkan secara global.
Melihat China dan negara Asia lainnya yang berusaha menjinakkan inflasi pada tahun 2011 ini, tren bullish bursa Asia khususnya bursa China dan Hong Kong akan tertahan dan cenderung bergerak konsolidatif, mungkin setidaknya hingga pertengahan tahun 2011. Khusus untuk indeks Hang Seng, diperkirakan sementara ini support kuat dapat ditemukan pada kisaran 21500, sedangkan resistance pada kisaran 25000.
Tahun ini mungkin akan menjadi tahun “pengetatan moneter” di Asia.
No comments:
Post a Comment